Asal Usul dan Legenda Pesugihan Nyi Blorong Wanita Siluman Ular

Fenomena Misteri – Selain Nyi Roro Kidul, Nyi Blorong juga merupakan salah satu sosok yang sangat melegenda dalam mitologi indonesia yang sudah lama terkenal. Sosok yang berparas cantik dengan tubuh setengah badan ular ini, diketahui merupakan salah seorang panglima terkuat yang dimiliki kerajaan gaib pantai selatan. Selain terkenal memiliki kesaktian yang sangat hebat, ia juga memiliki banyak bawahan jin yang tidak kalah banyak.

Asal Usul Nyi Blorong

Banyak sekali para ahli spiritual yang disertai dengan cerita yang sangat melegenda yang selama ini beredar di masyarakat menyebut jika Nyi Blorong aslinya merupakan salah seorang putri pertama Nyimas Dewi Rangkita yang bernama Nyimas Dewi Anggatri. Nyimas Dewi Rangkita sendiri ialah cucu dari Raja Caringin Kurung ke 11, Prabu Jaya Cakra. Nyimas Dewi Anggatri atau Nyi Blorong dulunya adalah seorang gadis nan cantik jelita. Akan tetapi, karena dibesarkan di lingkungan keraton yang serba berkecukupan, ia kemudian tumbuh menjadi wanita yang angkuh dan jahat. Karena kejahatannya itu, ia diusir dari keraton milik kakeknya. Ia kemudian mengasingkan diri ke hutan selatan dan baru dimulailah kisah asal usul Nyi Blorong ini.

Suatu saat dalam melakukan perjalanan menuju di hutan yang sangat luas, ia tak sengaja melalui sebuah gerbang ghaib yang membawanya masuk ke dalam kerajaan jin milik ratu segara selatan yang di sebut juga Nyi Roro Kidul. Mengetahui ada seseorang manusia yang masuk ke dalam kerajaannya, prajurit kerajaan kemudian datang menghampiri dan menangkap Nyimas Dewi Anggatri dan membawanya ke hadapan sang ratu.

Mendengar kisah dari cerita dan kisah hidupnya, Nyi Roro Kidul kemudian merasa iba. Kanjeng Ratu Roro Kidul kemudian mengangkat Nyimas Dewi Anggatri menjadi anaknya dan menganugerahkan kekuatan dan kesaktian siluman ular padanya. Kemudian Nyi Roro Kidul pun merubah nama si gadis kecil ini yang tadinya Nyimas Dewi Anggatri itu menjadi Nyi Blorong.

Pada mulanya, Nyi Blorong hanya dianggap sebagai gadis biasa, namun karena kepiawaiannya dalam memimpin, berperang, serta bekal kesaktian ularnya, Nyi Roro Kidul kemudian memberikan kepercayaan padanya untuk menjadi pemimpin batalion dalam satuan prajurit yang dimiliki kerajaan. Seiring dengan keberhasilannya dalam memimpin pasukan yang telah di kuasainya, Nyi Blorong secara bertahap kemudian dipercaya menjadi salah seorang panglima tertinggi dalam pertahanan keraton kerajaan yang berada di Pantai Selatan.

Mitos lain menyebut jika saat bulan purnama, kesaktian dan kecantikan Nyi Blorong bakalmencapai puncaknya. Dia pun bisa dengan mudah berubah diri menjadi sosok wanita yang sangat cantik berkebaya hijau. Akan tetapi, saat bulan mulai mengecil, ia dengan sendirinya akan berubah menjadi sosok ular raksasa yang sangat mengerikan.

Legenda Pesugihan Nyi Blorong

 

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, Nyi Blorong merupakan salah seorang dari bawahan Nyi Roro Kidul yang selain menjadi panglima tertinggi, juga memiliki tugas yang sangat penting untuk menyesatkan manusia. Penyesatan yang mereka lakukan adalah dengan memberikan pesugihan atau kekayaan dengan jalan yang sesat. Bagi manusia yang terjebak dalam hawa nafsu, pesugihan nyi blorong ini tentu akan sangat menggiurkan.

Dalam pesugihannya itu, Nyi Blorong selalu datang ke rumah orang yang memujanya. Ia kemudian akan meminta kepada si empunya rumah untuk berhubungan badan dengannya dalam kamar yang khusus dan sudah di sediakan. Dalam kamar tersebut, si empunya rumah akan melihat Nyi Blorong dalam wujud gadis cantik, namun jika ada yang mengintip, mereka akan melihat si empunya rumah tengah berhubungan badan dengan seekor ular raksasa.

Setelah melakukan ritual berhubungan badan, Nyi Blorong akan pergi dengan meninggalkan beberapa keping emas yang sebetulnya merupakan sisik ular miliknya.

Sebagai ganti dari kekayaan yang diperolehnya dengan mudah, si empunya rumah memiliki kewajiban untuk memberikan tumbal anggota keluarganya. Seseorang yang ditunjuk menjadi tumbal akan mati dengan penyebab yang ada-ada saja. Adapun tumbal tersebut bagi sebagian spiritualis akan diambil dan digunakan sebagai budak di kerajaan Pantai Selatan.