Kisah Mistis Pemandian Air Soda, Muncul Gelembung dan Badan Terasa Ringan

Fenomena Misteri – Mengunjungi Tapanuli Utara, Sumatera Utara, alternatif wisata yang bisa menjadi jujugan adalah Pemandian Air Soda. Terletak di Desa Parbubu, wisata itu tergolong murah meriah tetapi mengasyikkan. Raut ceria tampak dari wajah anak-anak yang bermain air di kolam yang berbentuk setengah lingkaran itu pada Sabtu (17/9) lalu. Di badan mereka menempel buih-buih yang muncul dari dasar kolam.

“Rasanya benar-benar seperti soda yang kita minum. Kemudian badan jadi hangat kalau kena air soda,” kata Tumpak Sitompul, seorang pengunjung.

Sambil berenang, pengunjung juga bisa merasakan udara yang segar dan pemandangan hamparan sawah plus jajaran Bukit Barisan. Yah, lokasi pemandian berbatasan langsung dengan areal persawahan yang terhampar luas dan dibentengi perbukitan yang mengelilingi kota Tarutung. Sehingga, Anda akan mendapatkan suatu pemandangan yang elok dan udara yang sejuk.

Selain itu, sensasi mandi air soda tentunya akan terasa lain, di mana saat kita turun ke dalam air akan timbul gelembung-gelembung dan terasa berbusa. Air soda akan membuat badan kita halus dan terasa ringan, serta airnya yang tidak lengket dan terasa asin walaupun tidak seperti asinnya air laut. Namun, Anda perlu berhati-hati, karena jika percikan air mengenai mata akan sedikit perih.

Warna air nyaris berwarna merah seperti karat, sehingga masyarakat sekitar menyebut tempat ini dengan nama Aek Rara Tarutung, di mana Aek berarti air, dan rara adalah merah.

Air soda itupun dipercaya mengandung khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. “Kalau mandi bisa menjadi obat mata dan obat gatal-gatal badan. Kalau diminum jadi obat rematik, pengapuran, dan asam urat. Itu hasil uji dokter di Bandung dan Yogyakarta,” kata Minar Sihite, si penemu air soda.

Demi menikmati air soda itu, pengunjung tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Minar mengaku hanya mengutip uang dari pemakaian kamar mandi untuk membilas badan dan sewa ban. “Selain itu, pendapatannya dari mereka yang makan dan minum di warung kami,” ujar Minar.

Ia pun menceritakan awal mulanya membuka Pemandian Air Soda yang berdiri sejak 1973 itu. “Mulanya mertuaku tinggal di Jakarta. Ia memiliki delapan anak di Jawa semua. Sesudah umur 90 tahun, mertua ingin pulang ke kampung. Tetapi, anaknya tidak ada yang mau pulang. Saya pun iba. Saya kemudian memutuskan berhenti dari kebidanan dan pulang ke kampung pada 1965,” tutur Minar.

Dalam suatu momen, Minar berjalan-jalan sendirian ke sebuah hutan yang dulunya terkenal angker. Di tempat itu, ia menemukan air bersoda secara tak sengaja. “Lalu saya cicipin airnya. Kok kayak air soda,” jelasnya.

Setelah mencicipi air tersebut, Minar berdoa di sebuah tempat rimbun. “Ciptaanmu ini Tuhan akan saya rawat sampai keturunan saya. Setelah berdoa, saya bikin tujuh kepal ‘itak gurgur’ (makanan khan suku Batak-Red) di atas daun pisang,” kenang Minar.

Ia pun meneruskan ritualnya. “Kemudian saya bilang, kepada kalian yang tinggal di tempat ini yang tak saya kenal, saya mohon untuk meninggalkan tempat ini. Ciptaan Tuhan ini akan saya rawat jadi mata pencaharian saya,” sambungnya.

Pada malam hari setelah ritual itu, Minar menjelaskan, dirinya didatangi sesosok arwah dalam mimpinya yang memberikan pesan bagi dirinya jika ingin menjadikan tempat itu untuk wisata.

“Dia berpesan kepada saya bahwa emas, intan, dan berlian ambilah dari tempat ini. Tapi ada perjanjian bahwa tidak boleh berbicara kotor, tidak boleh telanjang meskipun anak kecil, dan tidak boleh membuat penginapan. Di sini harus hormat,” jelasnya.

Setelah menerima pesan tersebut, Minar kemudian membuat kolam. “Awalnya seperti kubangan. Belum tampak mata air. Kira-kira (setelah dikeruk-Red) dua truk batu, lalu keluarlah mata airnya,” jelasnya.

Menurut Minar, masyarakat kala itu menganggap mata air soda itu sebagai tempat yang angker, karena tanaman padi masyarakat kerap mati jika air soda mengalir ke sawah.

Meski demikian, ia terus mengembangkan tempat pemandian itu yang bertahan hingga kini, dengan tetap memegang ‘perjanjian tak tertulis’ yang telah disepakati. Sehingga, Pemandian Air Soda itu masih terlihat alami. Tak ada hotel atau wisma yang berdiri di sekitar objek wisata itu.