Misteri Makam Gantung Daerah Blitar

Fenomena misteri – Makan gantung bagi sebagian yang mendengar ini pasti sangat penasaran namun lain hal nya untuk warga di daerah blitar. karena untuk warga belitar mendengan makam gantung sudah tidak asing lagi. Namun bagi anda yang belum pernah mendengarnya pasti sangat penasaran apakah benar ada makan yang di gantung.

Maka untuk menjawab rasa penasaran anda semua kali ini kami akan bahas misteri dari sebuah rumah kunno yang berada di Pesanggrahan Djojodigdan di Jalan Melati 43 Kota Blitar yang mana selama ini dikenal sebagai lokasi makan gantung untuk orang daerah blitar.

Begitu kita sampai di daerah lokasi kita akan dinampakan dua buah patung singa duduk yang ada di bagian sebelah kanan dan kiri dari teras rumah kosong itu sedangkan area dari makan gantung sendiri berada di bagian sisi belakang dari rumah kuno. Dan dari informasi warga sekitar makam gantung merupakan makam keramat didaerah Blitar. Yang mana kabarnya di makan tersebut di makamkan Mas Ngabehi Bawadiman Djojodigdo yang merupakan seorang Patih di daerah Blitar yang menguasai ilmu Pancasona.

Menuju makam gantung kita akan di sambut dengan udara segar dan angin semilir menemani kita berjalan sekitar 100 meter. Dari jauh kita juga sudah akan tampak pusara dengan empat buah payung mahkota yang memiliki kesan yang sangat mewah, di era zamannya.

Sampai di depan makam ternyata untuk makam itu sendiri tidak digantung. Hanya saja pada posisi nisannya memang lebih tinggi dibandingkan nisan-nisan lain di areal pemakaman keluarga tersebut. Makam Eyang Digdo dibangun di atas lantai dengan pondasi setinggi 50 cm dan bangunan dasar yang berundak dua itu setinggi 1 meter.

Pada bagian bawah nisan (selatan) ada tulisan huruf Jawa. Menurut penjelasan juru kunci atau penjaga makam gantung, Lasiman , tulisan Jawa itu berisi sejarah akan lahir dan meninggalnya dari Eyang Ngabehi Bawadiman Djojodigdo (nama lengkap Eyang Djojodigdo). ” Eyang Djojodigdo di lahirkan di daerah Kulon Progo pada Rabu Kliwon tanggal 5 Suro tahun 1755. Atau 29 Juli 1827. Meninggal pada hari Kamis Pon, tanggal 18 Safar 1839 atau 11 Maret 1909. Saat berada pada usia 84 tahun ” jelas Lasiman ditemui di padepokan Djojodigdo, Rabu (5/2018).