Legenda Mistis Batu Gantung di Pulau Samosir

Fenomena Misteri – Selain legenda danau toba, ternyata ada satu lagi yang cukup mistis dari tanah samosir yaitu legenda batu gantung. Konon disekitar area batu gantung itu dilarang mengeluarkan kata – kata kasar dan tidak senonoh atau akan terjadi mala petaka ataupun sial.

Dengan menaiki speed boat dari tepian pulau samosir, kami diajak oleh pengendara speedboat tersebut untuk melihat batu gantung. Oleh karena rasa penasaran yang sangat tinggi, kami pun mau saat diajak untuk menepi di sebuah tebing disisi danau toba tersebut.

Tebing tersebut memiliki ketinggian 20 – 30 meter dari sisi danau dan diujung tebing kita bisa melihat sebuah batu yang menggantung di sisi tebing tersebut. Maka disinilah semua mitos ataupun legenda batu gantung bermula.

Konon dahulu kala ada seorang gadis cantik di Parapat, oleh kedua orangtuanya ia hendak dijodohkan oleh seorang pemuda. Apa dinyana, hati sang gadis telah tertambat oleh pemuda lain yang menjadi pujaan hatinya. Dia menolak ajakan kedua orang tuanya untuk menikah dengan orang lain dan lebih memilih pujaan hatinya.

Karena malu sudah menolak ajakan orangtuanya, sang gadis begitu murung dan merasa kasihan kepada orangtuanya karena menjadi buah bibir di desa mereka. Selepas pulang dari sawah, sang gadis tidak langsung pulang, tetapi lebih memilih termenung di pinggiran Danau Toba dengan ditemani oleh anjing kesayangannya bernama si Gipul.

Ketika malam tiba, sang gadis beranjak pulang dengan pikiran kosong. Tanpa disadari, ia tidak melihat sebuah lubang besar di jalan, lalu terperosok jatuh ke dalam lubang tersebut. Sang anjing ketika melihat majikannya terjatuh, ia menggonggong untuk meminta bantuan orang lain.

Di dalam lubang, sang gadis lebih memilih untuk mati dibanding menanggung malu karena menolak lamaran orang lain. Ia pun berteriak lantang dari dalam lubang, “Merapatlah..merapatlah.”

Dinding lubang tersebut pun merapat dan mengubur sang gadis. Tidak berapa lama kemudian, terjadilah gempa. Tanah di sekitar Danau Toba berguguran dan hanya menyisakan seonggok batu tempat lubang sang gadis tersebut. Batu gantung tersebut bentuknya menyerupai seorang manusia.

Konon di area batu gantung, para pengunjung dilarang mengeluarkan kata – kata kasar ataupun kata – kata yang tidak senonoh karena akan membawa kesialan. Didasar tebing, konon juga terdapat sebuah lubang yang dihuni oleh mahluk bunian. Setiap festival toba berlangsung, beberapa ketua adat memberikan sesaji dibawah batu gantung dan di guna kecil tempat para mahluk bunian tersebut berasal.