Misteri Keluarga Besar Tatung Saat Jalani Ritual Tolak Bala

Fenomena Misteri – Kelompok tatung dari Cetiya: Chau Liu Nyian Shai masih bersiap ketika rombongan dari pekong dan cetiya lainnya sudah meramaikan klenteng utama di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Tri Dharma Bumi Raya. Mereka akan melakukan ritual tolak bala dan pergi ke klenteng utama untuk bersilaturahmi dengan dewa.

Setiap tahun pada tanggal ke-14 dalam bulan pertama penanggalan China, tatung (seseorang yang telah dirasuki roh dewa) melakukan ritual. Roh para dewa atau leluhur turun dari langit yan menjelma dalam tubuh tatung membantu mengusir roh jahat agar kehidupan masyarakat menjadi lebih damai.

Djie Khin Djung, pemimpin tatung di cetiya terlihat sibuk melakukan koordinasi dengan warga sekitar yang akan membantu melakukan iring-iringan tatung. Dibantu anaknya, Steven Wong, ia menyiapkan perlengkapan ritual hingga mekanan untuk mereka yang membantu.

Sekitar pukul 10 pagi, tatung lain yang ditunggu tiba. Mereka lantas bergegas untuk memulai ritual. Cetiya: Chau Liu Nyian Shai akan mengeluarkan tujuh orang tatung sekaligus. Mereka adalah Khin Djung dan keenam anaknya yang terdiri dari lima laki-laki dan satu perempuan berusia 14 tahun.

Keluarga Khin Djung terkenal sebagai keluarga besar tatung karena 11 dari 13 anaknya sudah menjadi tatung. Setelah mengenakan kostum layaknya pakaian kebesaran dewa, satu per satu berdoa di depan altar. Tujuannya, meminta izin kepada dewa untuk berkunjung ke klenteng utama.

“Itu untuk meminta pengertian dewa karena kami mau ke pekong raya untuk silaturahmi,” kata Khin Djung kepada Fenomenaalam.com

Setiap kali duduk ataupun berdiri didepan altar, sikap para tatung akan berubah drastic. Pandangan lebih tajam dengan raut wajah yang lebih keras. Salah satu tatung bahkan terlihat seperti penuh amarah.

Setelah itu ia melangkah dengan kuda – kuda mantap sambal berteriak dan sesekali memainkan senjatanya. Setelah itu semua tatung dirasuki oleh roh dewa, rombongan bersiap berangkat. Kin Djung duduk di atas tandu sementara tatung yang lain berjalan kaki.

Tambur dan simbal ditabuh kencang, suara peluit panjang ditiup nyaring sebagai tanda orang harus mengosongkan jalan untuk dilalui rombongan. Iringan jalan tatung sempat terhambat karena volume kendaraan di sekitar cetiya menuju klenteng utama meningkat. Banyak orang menonton ritual tersebut membuat laju mereka menjadi lambat.

Berbeda dengan tatung dari pekong atau cetiya lainnya, tatung dari Cetiya: Chau Liu Nyian Shai tidak melakukan atraksi ekstrem seperti menusukkan pedang ke anggota tubuh atau menginjak bilah pedang. Salah satu tatung hanya memainkan pedang.

Setelah itu mereka langsung menuju ke depan altar dan berdoa. Khin Djung berkata, yang mereka lakukan sesuai dengan keinginan dewa yang masuk ke tubuh mereka.

Tak sampai lima menit, tatung-tatung kembali ke barisan rombongan, pulang ke cetiya.

Usai ritual tolak bala tersebut, satu per satu dari ketujuh tatung terlihat kembali sadar. Mereka langsung duduk dan minum air putih sambil mengatur napas yag tersengal-sengal.

Satu-satunya tatung perempuan, Atan, menghapus riasan wajah dan melepaskan baju kebesarannyam dibantu anggota keluarga.

Khin Djung dan anak-anaknya mengaku mendapatkan predikat tatung karena jodoh dan telah menjalaninya sejak usia tujuh tahun tanpa diturunkan dari orang tuanya.

“Orang tua saya, kakak-kakak atau saudara saya tidak ada yang tatung,” kata laki-laki berusia 63 tahun itu.

Ia juga tidak menurunkan anugerahnya sebagai tatung kepada anak-anaknya. Ke-11 anak Khin Djung menjadi tatung juga berkat anugerah dari para dewa.

“Kami boleh dikatakan keluarga besar tatung karena mereka (anak-anak saya) tidak belajar tapi dipiih dari atas. Tuhan yang pilih dia sebagai tatung, bukan saya yang mengajarkan,” ujar Khin Djung.

Menjadi tatung, kata Khin Djung, bukan saat menjalankan ritual saja. Sehari-harinya, tatung bisa menggunakan kemampuan untuk membantu sesama.

Yang paling sering dilakukan Khin Djung adalah mengobati orang yang terkena penyakit, terutama masalah gigi karena ia berprofesi sebagai tukang gigi. “Kami dipilih dari atas sebagai perantara. Kalau orang sakit atau apa minta berobat kami obati,” kata dia.

Khin Djung menuturkan, menjadi tatung bukan perkara mudah. Siapapun yang mendapat gelar tersebut harus menjaga perilaku dan hati nuraninya agar selalu berbuat baik

Tidak boleh ada penolakan jika terpilih menjadi tatung karena akan menimbulkan karma berkepanjangan.

“Kalau tatung itu tidak bisa bilang mau atau tidak. Kalau melawan dewanya kadang banyak risikonya. Ada yang sampai gila, sakit hati, kena musibah. Kalau tidak mematuhi apa yang diperintahkan dewa akibatnya tetap ada, hukum karmanya,” ujar Khin Djung.